Acara
ESN-SFTI, hasil kerjasama Sampoerna Foundation Teacher Institute , PT. Planet
Edupro, dan SIM Professional Development , berkesempatan menghadirkan Tony Buzan,
Inventor Mind Map, seorang ahli manajemen otak. Acara diadakan hari Sabtu, 18
April 2009, dimulai pukul 10.30 dan berakhir sekitar pukul 13.00 di Anjungan
Provinsi Lampung, Taman Mini Indonesia Indah.
Kesempatan sharing ini merupakan preview dari seminar penuh Tony Buzan di minggu
ke-3 bulan Agustus 2009 nanti. Dalam ESN 2 jam ini, Tony Buzan menyampaikan
beberapa hal yang menarik serta menyatakan apresiasinya pada komunitas guru dan
pendidik yang hadir. Beliau bahkan membungkus pembicaraannya dengan bagaimana
guru seharusnya berperan dalam ‘pendidikan’. Beliau memulai dengan mengingatkan
peserta untuk menyiapkan bagian tertentu dari catatan mereka untuk mencatat
definisi-definisi tentang guru yang akan ia bahas seiring sesi berjalan. Dan
berikut ini adalah isi catatan saya.
1. Teacher is primarily responsible for the future.
Guru paling bertanggung jawab akan masa depan. Bagaimana memanfaatkan ‘kuasa’
ini menjadi signifikan, karena ini adalah kutukan dan berkat menjadi seorang
guru.
2. Teacher is the rescuer of human creativity.
Guru adalah penyelamat kreativitas umat manusia. Tony Buzan berbicara mengenai
sebuah riset tentang kreatifitas. Riset ini menghitung kreatifitas manusia dalam
usia tertentu. Hasil yang diperoleh ternyata cukup menarik. Skor kreativitas
anak TK ternyata 95 plus! Anak SD 75, anak SMP-SMA 50, anak kuliahan 25, dan
orang dewasa 10 (bahkan ada yang minus!). Beliau mengacu kepada sistem
pendidikan selama ini. Katanya, ini bukan karena kegagalan pendidikan, ini
kegagalan ‘pendidikan yang buruk, karena menurutnya ‘pendidikan yang baik’ tidak
akan gagal. Tony berkata jika pendidikan dan proses belajar dilakukan dengan
benar, maka seharusnya otak manusia itu akan menjadi semakin baik-semakin
kreatif seiring bertambahnya usia. Hal tersebut dapat ditunjukkan oleh
‘genius-genius’ dalam sejarah. Verdi seorang komponis terkenal masa lalu membuat
komposisi terbaiknya dalam usia 90an tahun, begitu pula dengan Mozart dan
Beethoven. Leonardo da Vinci atau Thomas Edison juga semakin banyak menemukan
‘temuan-temuan’ di usia ‘senja’. Salah satu contoh mutakhir ada di Italia, Rita
Levi Montalcini, ilmuwan peraih nobel bidang kedokteran yang telah berusia
seabad (tepat pada 20 April 2009). Dalam sambutannya, ia menyatakan bahwa
dirinya merasa ingatannya menjadi semakin tajam dibandingkan kala ia berusia 20
tahun, Rita dianugrahi kehormatan sebagai ‘senator seumur hidup’ oleh pemerintah
Italia (Koran Tempo, 20 April 2009, halm.B8 kolom 1). Jadi, mereka semua itu
cocok dengan peribahasa: ‘tua-tua keladi, semakin tua semakin jadi!’
3. Teacher has the
privilege of helping the students mine the gold mind.
Guru adalah orang yang memiliki kesempatan untuk membantu siswa memiliki otak
yang luar biasa. Tony Buzan menceritakan perkembangan umat manusia dari era ke
era, mulai dari 10ribu tahun lalu era agrarian, 200 tahun lalu era industri, era
informasi (50 tahun lalu), era pengetahuan (17 tahun lalu), era manajer
pengetahuan (otak atau kecerdasan). Kita merasakan informasi menjadi terlalu
banyak (information overload) dan semakin banyak sejak era informasi, dalam era
pengetahuan kita mencari cara bagaimana kita dapat me-manage pengetahuan itu,
tetapi hal itu belum dapat menjadi solusi yang efektif selama kita belum dapat
me-manage si manager pengetahuan itu sendiri yaitu otak (kecerdasan)! Dalam ESN
ini ada seorang anak yang berkesempatan memberitahukan manfaat ‘mind map’ dalam
meningkatkan nilainya di sekolah. Si anak berkata dulu ia hanya mendapatkan
nilai 4 di sekolah dan setelah menggunakan metode ‘mind map’ untuk belajar ia
mendapatkan nilai 9! Orangtua si anak sempat dipanggil oleh kepala sekolah
karena ‘lompatan’ prestasi anaknya ini…
4. Teacher is the person who helps the students nurtures the gardens of
multiple intelligences.
Guru adalah orang yang membantu siswa membesarkan kecerdasan majemuk mereka.
Tony Buzan menyatakan bahwa saat ini manusia berada dalam era kecerdasan majemuk.
Guru sebaiknya mengerti bagaimana mengintegrasikan proses belajar sedemikian
rupa sehingga siswa berkesempatan menumbuhkembangkan seluruh potensi kecerdasan
majemuk dalam diri mereka masing-masing. Tidak melulu kecerdasan verbal dan
numerical, tetapi juga bagaimana mengembangkan potensi kecerdasan fisik (how to
stay fit) dan sensory (visual-auditory-kinesthetic), kecerdasan sosial (how to
make friends), kecerdasan personal (how to be a good friend, be confident),
kecerdasan spiritual (termasuk peduli lingkungan, sadar akan nilai moral dan
etika). Seorang rekan Tony Buzan juga menyatakan bahwa di masa depan,
sekolah-sekolah akan menghadapi persoalan tentang bagaimana mereka mengakomodasi
filosofi kecerdasan majemuk ini dalam sistem mereka.
5. Teacher is shepherd of daydreams who works with students to help make it
come true.
Guru adalah penuntun lamunan siswa dengan membantu mereka menentukan apa yang
berharga untuk mereka lamunkan dan mewujudkan apa yang mereka lamunkan. Menurut
Tony Buzan, ‘melamun’ adalah sebuah skill dalam otak manusia yang terletak di
otak bagian kanan (seperti ditemukan Prof.Roger Sparry seorang peraih nobel).
Jadi guru didorong untuk ‘memandu’ lamunan siswa dan memanfaatkannya dalam
proses belajar.
6. Teacher is the person who launches the child on the exploration of its own
infinite universe.
Guru adalah seorang yang mampu melepaslandaskan siswanya dalam mengeksplorasi
dunia dan masa depan mereka yang tanpa batas. Otak tidak bekerja secara
sebelah-sebelah. Otak kiri dan kanan bekerja secara sinergis. Jika saja guru
tahu bagaimana membuat kedua belahan otak seorang siswa saling bersinergi maka
si guru akan berhasil membebaskan ‘kreatifitas tidak terbatas’ siswa tersebut.
HTML clipboard
ditulis oleh: Aditya Dharma
(Fasilitator SFTI)
|