Pada TPSN kali ini, SFTI mengundang Kepala Sekolah, Guru, Pemerhati Pendidikan dan Orang Tua Murid untuk berbagi dan berdiskusi
tentang berbagai pengalaman dan pengetahuan dalam implementasi Culturally Responsive Pedagogy.
Pemahaman tentang keberagaman latar belakang siswa telah menjadi salah satu tuntutan profesionalisme guru dalam dunia pendidikan. UNESCO menegaskan bahwa salah satu dari empat pilar pendidikan adalah ”learn to live together”. Oleh sebab itu, pemahaman mengenai keberagaman juga penting untuk diimplementasikan di Indonesia.
Isu yang akan diangkat dalam TPSN kali ini adalah, apabila pemahaman mengenai nilai-nilai tentang keberagaman (diversity) ini penting bagi siswa, apakah pendidikan multikultural perlu menjadi sebuah mata pelajaran baru atau menjadi bab baru dalam pelajaran moral/agama.
Serta bagaimana isu-isu perbedaan ini dapat diaplikasikan melalui pembelajaran secara efektif.
Menyadari kompleksnya lingkup pemahaman mengenai keberagaman, maka dalam hal ini faktor yang mendasari metode dan strategi pengajaran guru bukan hanya faktor psikologi. Namun meliputi juga faktor sosiologi.
Cultural Responsive Pedagogy, merupakan salah satu pilihan cara yang efektif dalam mengimplementasikan pendidikan multikultural di berbagai tingkat pendidikan.
|